Posts

Showing posts from August, 2014

MABA

Mendengar sebuah kisah dari seorang MABA ia rindu pada ibunya namun tak tahu keberadaannya kedua orang tuanya berpisah dan memilih kehidupan masing-masing tanpa mempedulikannya ia rindu pada bunda juga adiknya tapi ia tak tahu kabar tentang mereka terciptalah sebuah tulisan sebuah rangkaian kata rindu tergores dalam bisu diatas selembar keras putih mimpi mulianya mencari sang ibu mimpi mulianya ingin mengumpulkan keluarganya mimpi mulianya ingin memeluk ibunya mungkin tercekat bahkan tercekik
Ku kirimkan salam lewat goresan di atas kertas hitam di atas putih hanya dengan ini aku bisa melepas salam bukan karna asa menggelayutiku tapi kesadaran akan posisimu ku melakukan ini

harus hidup

"Cukup mempertahankan dan mengembangkan" cukup bertahan dan terus melangkah mimpiku tah terhenti dan kau tak muncul lagi dimalamku begitulah cara kita yang sudah diatur hidup harus terus berlanjut bukan? "Janganlah bersedih, Allah bersama kita." Aku tak sendiri percayalah mungkin memang ini jalanNya tinggal diriku mau menerima atau tidak kalau ditanya sedihkah aku? maka ku jawab iya rindukah aku? tentu saja tapi dengan aku seperti ini, dengan air mata ini, bukankah aku melukaimu setiap hari? aku harus bangkit kan? ya harus terus melanjutkan hidup

moon is come back

dulu aku selalu berkhayal akan kedatangan pemilih jas kuning lalu aku mendengar seuah berita juga melihat gundukan tanah bekas galian yang masih baru masihkah boleh aku berkhayal? aku tak pernah bermimpi sebegini gelapnya dan aku sadar ini bukanlah mimpi bahwa si pemilih jas kuning pergi terbang ke langit bulan tlah tampak dilangit bukankah memang disanalah tempatnya berada? di langit...

Memori

ku terbangun dan ternyata hanyalah mimpi saat ku buka mata, ada sepasang mata yang sangat ku kenal menarikku tuk segera bangun kakimu luka tapi kau memintaku mengantarmu ke seseorang aku tak bisa berkata apa-apa tapi hatiku berbunga kau berada di depan mataku dan kau berbicara padaku kita pergi ke sebuah tempat yang aku tak tahu aku belum pernah menuju tempat itu laluu semua menghilang perlahan kau tak benar ada di depan mataku adakah ini hanya karna aku terlalu rindu? atau memang pesan perpisahan darimu? aku berharap kita bertemu kita bertemu tapi saat mataku terpejam ingin aku terus memejamkan mata agar tetap melihat senyum itu mata itu memoriku tentangmu perlahan berkurang senyummu aku tak lagi bisa membayangkannya matamu aku juga tak bisa membayangkannya rambutmu dan semua tentangmu perlahan menghilang aku takut jika nanti aku lupa aku takut jika aku benar-benar melupakanmu aku takut memori ini akan benar-benar hilang

swaaaa

mungkin hanya kesalahpahaman waktu dan tempat saja bukankah begitu? iya begitu dan biar begitu biar malam bernyanyi biar air langit jatuh turun tak mengapa hati ini bukankah setegar karang tenang kau tak merasakan apapun  katakan dan teriakkan bahwa kau tak merasakan apapun buang semua perasaan dalam dirimu kapankah datang kematian itu? aku sungguh penasaran seperti apa kematian menjelangku semua rasa jengkel, marah kan hilang jika kau kehendaki maka kini kuucapkan mantraku swaaaaaa semuanya hilang

Apa kau...?

Apa kau mengerti arti kata sepi? apa kau mengenal arti kata sendiri? apa kau mendengar jeritan hati? apa kau melihat tetesan air mata ini? Kutanyakan padamu kutanyakan pada kalian jika memang tidak, tak usah bermanis lidah tak usah menunjukkan kalimat peduli biar saja kita hidup masing-masing bukan memutuskan tali hanya saja memberi ruang tuk berjalan aku tak benci kecewa? mungkin iya mungkin juga tidak disini aku  bersama sebuah pena aku menulis karna dengan itu aku tak sendiri setidaknya kertas mau mendengar isi hatiku meski terpaksa

aku tercekat

aku tercekat mengapa oksigen tiba-tba menjauhiku semua dinding semakin dekat kegelapan datang dari berbagai sisi aku berteriak tapi tak ada yang mendengar karna semua udara tlah menjauh dariku tenggorokanku pun tak bisa lagi menghasikan suara mengertilah bahwa aku ingin belari dipnggir pantai mengertiah bahwa aku ingin melihat matahari terbit dari puncak semeru mengertilah bahwa aku hanya ingn sejenak saja sendiri memikirkan apa yag sedang terjadi meski sebenarnya aku tak ingn benar-benar sendiri karna saat aku sendiri hal ini semakin mencekikku tanpa ampun jikalau boleh aku ingin kematian segera menghampiriku agar aku bersua dengan Tuhanku dengan begitu aku bebas erkeluh kesah padaNya hanya Dia yang tahu semua tentangku dan rasaku

....

Saat aku mulai merasa rindu kau terbayang jelas dipelupuk mata aku tahu Allah adalah pemilikmu aku juga tahu kau tak akan menjawab pertanyaanku yang aku tahu pasti kau menginginkanku bercerita semua kepadaNya bukan? tahukah engkau saudaraku bahwa aku kini lelah? rasanya kering dan menyesakkan disini sepi....

Abdul Wahid Qamaruddin

Image
Abdul Wahid Qamaruddin seorang kakak yang kutemukan di SMPN 1 Kalipuro, awalnya ia adalah makhluk yang menyebalkan tapi aku salut dengan kecerdasan dan mimpinya yang terus berlanjut. Kami berteman saat itu aku ingat berawal di perpustakaan sekolah untuk pertama kali ia membuat kartu dan meminjam buku berjuduk "40 Hari bersama Tuhan". Ia selalu mendapat perigkat pertama dengan nilai yang menggemparkan jadi saat ia lulus aku melihat nilainya dan berkata aku akan berada diposisi itu ternyata seorang guru mendengar ucapanku dan menuntut itu sebagai janji maka ku katakan aku bisa. Ia melanjutkan studi di SMK terbaik di kotaku dan aku bermimpi masuk SMA terbaik di kotaku. SMKN 1 Glagah tempatnya belajar, SMAN 1 Glagah tempatku meniti ilmu selanjutnya. kami berteman layaknya kakak adik yang dekat tidak lebih. Aku yang menginginkan seorang kakak laki-laki merasa senang memiliki kakak seperti dia ya meskipun agak sedikit ribet karena banyak wanita yang meliriknya dan membuatku sedik...

:)

Hari kesekian setelah kepergianmu Masih sangat kental diingatabnku saat kita bermain sceable dan bagaimana senyum nakalmu saat kutanya apa kau suka membaca. Kau pergi tanpa berpamitan denganku, yang aku ingat hanya saat ada yang mengabarkan beritan tentangmu dan aku tak percaya aku kira itu hanyalah candaan tapi ternyata saat kususuri jalan menuju rumahmu semua bukanlah mimpi atau sebuah permainan. banyak orang dan ada air mata disana. haruskah aku percaya? Bagaimana mungkin bukankah hari itu 3 Agustus kau harusnya berangkat untuk studi tapi kau pergi benar-benar pergi jauh jauh jauh jauuuuhhhhhh.......... Rezeki, jodoh, dan mati adalah dua hal yang tak bisa kita prediksikan. Sedih kehilangan itu pasti, namun bukankah kita harus memanfaatkan waktu yang tersisa? Kau mengajarkan banyak hal dari rasa sakit ini. mungkin ini jawaban agar aku tak berkhalwat dengan siapapun biar engkau menjadi kenangan terindah dari hidup  seorang layyina, bukankah Allah memerintahkan wanita untuk me...