Mengenal Rumah Literasi Indonesia

 Pulang ke Banyuwangi, banyak hal yang kujumpai termasuk mengenal mereka yang menyuarakan pembangunan dari kampung halaman. Jika diawal aku merasa sendiri bahkan kehilangan setiap aktifitas kampus dulu, tapi kini berada di kampung halamna amatlah menyenangkan. 

Mengenal lingkungan sebagai tempat tinggal juga tempat untuk tumbuh menumbuhkan. Mengenal Rumah Literasi Indonesia, dulu di tahun 2015 adikku pernah menyebut nama ini posisinya di Paliran katanya. Waktu itu aku masih belum terlalu penasaran, sampai pada masa aku pulang seperti inginku sedari dulu. Menimba ilmu, melangkah keluar kemudian kembali ke Banyuwangi.

Tahun 2019, aku merasa seperti pemuda dalam goresan Rendra seonggok jagung di kamar.

......

Seonggok jagung di kamar

tak akan menolong seorang pemuda

yang pandangan hidupnya berasal dari buku,

dan tidak dari kehidupan.

Yang tidak terlatih dalam metode 

dan hanya penuh hafalan kesimpulan 

yang hanya terlatih sebagai pemakai,

tapi kurang latihan bebas berkarya. 

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya: 

Apa gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang ibukota

kikuk pulang ke daerahnya

Apa gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, ata apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:

"Di sini aku merasa asing dan sepi!"

....

Aku memang bercipta kan mengabdi di kampung halaman, tapi ternyata ketika masa itu dalang aku malah merasa sepi dan bodoh. Bayangkan jika biasanya yang kuhadapi mahasiswa, maka di rumah aku berhadapan dengan masyarakaylt yang sebenarnya dan tentu cara komunikasi yang perlu kupelajari lagi. Bertemu dengan para pemuda karang taruna yang berbeda dengan pemuda yang biasa kutemui di kota tempatku belajar. Yogyakarta-Banyuwangi bahkan dalam jaraknya saja lebih dari 100 km tentu banyak hal yabg berbeda mulai dari bahasa sampai kebiasaannya. 

Lucunya adalah, bukankah aku sejak kecil tinggal dikampungku? Dan berada disana hanya beberapa tahun saja? Lalu mengapa kampung menjadi asing rasanya?

Sebuah tanya yang bermuara pada refleksi untuk lebih mengenal diri, ternyata masih sedikit yang kupelajari tentang kehidupan. 

Tahun 2019 aku mulai belajar menyelami kehidupan masyarakat mulai masuk ke area karang taruna hingga diskusi di desa. Tapi belum berjumpa dengan orang yang bisa diajak berbincang. Bahkan aku masih merasa garda fip (teman-teman kampusku) adalah tempat ternyaman tuk bertukar pikiran. 

Sampai sekilas karna beberapa hal akhirnya aku mulai terpapar Rumah Literasi Indonesia, awalnya hmmm aku sedikit lupa. 

Aku mulai menikmati kehidupanku mengajar di kampung halaman, mulai berkegiatan ini itu dan di akhir 2019 aku berjumpa Ummi Ufa, kenalan masa SMAku dulu yang bisa dikatakan orang yang membuatku mantap mengambil special education. 

2020 aku menjajaki kembali impianku dan takdir membawaku berjumpa seorang Fais Zathur Rosida, salah seorang guru tempatku mengajar. Kemudian kami berbincang dan yups akhirnya aku menjumpai satu makhluk yang bisa kuajak diskusi selain Ummi Ufa. Makhluk ini yang perlahan menarik tanganku mendekat ke Rumah Literasi Indonesia, first impression aku merasa diterima seolab teman lama. Kemudian aku bertemu sosok Nurul Hikmah, wanita cerdas di balik RLI. Makin makinlah aku merasa tak salah aku kesini karna ia memiliki mimpu besar membangun kampung halaman, mulai dari hal kecil namun berdampak.

2020 bulan november, aku mengikuti Inspirasi sekolah Literasi. Jangan tanya lagi, hatiku merasakan haru dan impian yang menggebu bahwa kami masih bisa berharap untuk menjadi lebih baik.

Belajar agar tak menjadi asing pada kehidupan

Langkah kecil yang bisa dilakukan adalah mencari orang-orang yang mau bertumbuh dan menumbuhkan agar kau tak mati kekeringan. Sepertiku yang akhirnya menjumpai mereka meraka yang menyejukkan dan menumbuhkan harapan.

Jika kalian datang ke kampungku, aku tak hanya akan mengajak kalian menikmati keindahan alam tapi juga wisata pikir dan harapa  kan kalian jumpai di kampung halamanku Banyuwangi. 


Comments

Populer Post

Sinopsis novel Akatsuki

Proses Osmosis pada Kentang

Bunga dan Kumbang