Surat untuk SBY

Surat untuk SBY
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mungkin bapak berfikir untuk apa saya mengirimkan hal ini? Saya tidak memiliki alasan yang teraluu condong untuk hal ini hanya saja saya merasa saya perlu menyalurkan pemikiran saya lewat tulisan ini kepada bapak. Karena sangat sulit untuk bisa berdialog dengan seorang presiden, apakah hak berdialog dengan seorang presiden itu hanya untuk segelintir orang saja? Apakah saya tidak bisa melakukan itu. Entah nantinya bapak membaca atau tidak surat ini, saya hanya mencoba meluapkan isi hati saya agar semuanya terasa lebih ringan. Bapak saya sebagai rakyat Indonesia sangat berterimakasih, bangga juga agak sedikit kecewa. Saya tahu bapak sudah banyak sekali melakukan hal-hal yang sangat bagus untuk menjalankan visi misi yang bapak usung. Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin saya sampaikan namun sepertinya saya hanya menyampaikan beberapa hal saja karena menurut saya lebih enak jika kita berdialog secara langsung bukan melalui tulisan ini. Sebagai seorang pemimpin harus bisa mengayomi rakyatnya dan tegas dalam keputusan, seorang pemimpin haruslah memiliki wibawa. Tapi bapak entah mengapa saya merasa bapak hanyalah pemimpin boneka yang dimainkan beberapa pihak saja, saya sangat prihatin dengan pemberitaan yang ada di Negara kita sangat tidak mencerminkan jiwa kepribadian bangsa ini. Apakah etis jika seorang pemimpin di jelek-jelekkan di muka umum? Memang kita demokrasi, ya benar ada hak berpendapat namun bukankah dengan pemberitaan yang seperti itu bisa dikatakan demokrasi yang berlebihan? Berita kita selalu menayangkan hal-hal yang negative tentang anda dan menanamkan pemikiran bahwa seorang pemimpin itu sarat dengan korup, lemah, tidak peduli. Bukankah ini adalah salah satu lubang yang akan timbul di tubuh kita? Saya rasa akan lebih bijak jika tidak terlalu frontal dalam mengutarakan sesuatu. Sebenarnya yang saya ingin sampaikan adalah pertama tolonglah adakan dialog dengan para mahasiswa, perkumpulan tani, perkumpulan nelayan dan lain-lain, tidak perlu di tempat mewah saya rasa di pematangan sawah akan lebih bersahabat. Kedua bersikaplah lebih tegas. Mngkin surat ini terkesan sangat terlambat jika dilihat dengan waktu masa jabatan bapak yang tinggal sedikit, tapi setidaknya saya sudah merasa senang dapat menulis. Terimakasih bapak telah bersedia membaca surat saya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Umi Layyina

Comments

Populer Post

Sinopsis novel Akatsuki

Proses Osmosis pada Kentang

Bunga dan Kumbang