Sebut Saja Begitu

Ya  Allah memang selalu memberikan hidup penuh warna kepada hambanya, seperti itu juga aku yang memiliki banyak warna dalam hidup, jika aku berada di dalam sini aku merasa sangat menyukai gelap dan kesunyian hingga aku tak mampu melihat sinar maupun mendengar nada berbisik sekalipun. Aku merasa melayang dan membuka segel tinta gelap dan akhirnya tinta itu membanjiri kanvasku. Begitulah aku di dalam kotak ini aku sangat menyukai lorong-lorong tanpa cahaya, aku menyukai warna hitam, kelabu, bahkan abu-abu dalam jangka waktu yang tak bisa kuprediksikan. namun saat aku mulai membuka kotak persegi panjang yang mereka sebut pintu, warna lain mulai mengerubungku dan menghilangkan pengaruh kegelapan dalam mataku, aku merasa terbang di angkasa biru, menghirup jernihnya udara pagi hari, dan melihat mega merah langit saat fajar. Begitu menyenangkan berada diluar sana namun di luar, di tempat berbeda yang berjarak mungkin 1200 langkah aku merasa tercekat setiap detiknya, aku merasa ada yang mencekik leherku memaksaku hanya melihat satu warna yang tidak bisa disebut warna. Ya warna itu putih yang menelan hitam namun bukan berarti mengalahkan, ia hanya menyembunyikan hingga aku kebingungan membedakan lalu menerkamku dan membuatku tak mau melihat warna lain karna aku sungguh tak memiliki kemampuan itu. Maka aku memilih kembali masuk dengan cepat.
Aku kembali masuk kedalam kotak dan menutup persegi panjang yang mereka sebut pintu rapat-rapat, di dalam sini memang aku suka gelap namun bukan berarti semua yang ada disini berwarna gelap. Kau bisa lihat dinding itu berwarna putih tulang, lemari coklat, goresan warna biru didinding, warna-warni sampul buku, merahnya laptopku, dan warna lembut merah muda alas tidurku. Hhh lucu bukan? Bagaimana bisa alasku berwarna seperti ini? Padahal aku suka gelap harusnya kucat dahulu menjadi kelabu agar seemakin nyaman berada didalam sini. Namun jika aku terlalu lama disini sama saja aku membiarkan diriku tenggeelam ke dasar samudera tanpa berusaha meraih pelampung maupun menggerakkan tangan dan kakiku tuk mencoba berenang meski sebenarnya aku tak bisa berenang. Aku harap jika aku terlalu lama disini ada yang berkenan memanggil namaku dan mengajakku melihat birunya langit daan tarian awan bermusik angin.
Maukah kau panggil namaku?

Panggil saja aku Lina J

Comments

Populer Post

Sinopsis novel Akatsuki

Proses Osmosis pada Kentang

Bunga dan Kumbang