Sepenggal kisah pulang
Perjalanan menuju
rumah, ayee pulang deh pulang, tadi kereta berangkat jam 07.45 alhamdulillah
sesuai dengan jadwal dan sekarang puukul 10.30 sampai di stasiun Madiun,
seperti biasa seperti sebelumnya teman perjalananku adalah bapak dan ibu, ya
aku duduk di kursi dengan 3 orang, gerbong 1 21C. depanku ada dua mbak-mbak.
Perjalanan yang ya lumayan menyenangkan, rasanya agak gak percaya kalau aku
akan pulang sekarang dan aku diatas kereta sekarang. Hujan mengantar
kepergianku tadi pagi tapi langit masih sama dan tetap indah dipandang.
Senang diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Kutak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan
Kereta berhenti
ditengah-tengah persawahan, lalu lalang kendaraan bermotor anak sekolah, ibu
mengantar anaknya, mobil, mas mas, dan seorang
wanita yang menarik perhatian. Diantara mesin yang bergerak, ia
menggerakkan kendaraannya penuh cinta dan kekuatan. Mengayuh sedikit sedikit
sepedanya sepertinya angina bersimpati padanya sehingga ia meniupkan sedikit kekuatannya
tuk membantu roda itu berputar. Lihatlah pohon disekelilingnya seolah
mengejekku karna aku hanya bisa melihatnya dari sini dari dalam kotak besi.
Ada sekitar 12 botol
yang ia letakkan diboncengan sepeda tua itu, mungkin ibu adalah penjual jamu yang
sedang berkeliling dan pelanggannya mestinya banyak karena beberapa botol sudah
tak berisi lagi. Aku penasaran kenapa di usia yang menurutku sudah waktunya ibu
itu dirumah malah mengayuh sepeda untuk berkeliling hampir tengah hari begini. Atau memang ibu itu hanya ingin mencari
kesibukan dan merasa malas dirumah? Entahlah aku tak tahu.
Sosok itu
mengingatkanku pada ibu dirumah, ibuku hanya ibu rumah tangga biasa karena
bapak memang tak mengijinkan beliau untuk bekerja, ibuku anak bungsu dari 4
bersaudara dan pertemuannya dengan bapakku bukanlah melalui pacaran namun
melalui perjodohan tapi tetap bapakku datang kerumahnya terlebih dahulu.
Ibuku wanita keras
bukan wanita yang gampang menunjukkan kasih sayang nya , hampir setiap hari
selama ini kami selalu bertengkar entahlah aku sempat mrnyimpan benci yang
mendalah padanya ibuku dulu adalah orang yang pertama kali aku benci. Bodohnya
aku membenci wanita yang telah melahirkanku kini baru aku sadari diumur ke 18
bahwa ibuku sangat menyayangiku bahkan sayangnya sangat besar dan tak bisa
diukur, aku merasa betapa bodoh.
Ibu karenamu aku
disini dikereta ini menuju rumah, ibbu karenamu aku bisa lolos dan kuliah di
UNY dan aku adalah calon orthopaedagog ibu itu karenamu dan bapak. Semua yang
aku dapatkan saat ini adalah hasil kerja kalian. Jadi seharusnya aku tak boleh
membiarkan kalian berada dijalan nanti jika aku sudah berpenghasilan. Aku ingin
membahagiakan kalian terlebih dahulu.
Waktu tak bisa diputar
kembali dn sesal memang slalu datang dibelakang setelah waktu berlalu cukup
lama, aku sudah menjauh dari orang tua dan keluargaku sampai diumur 18 tahun,
betapa aku merasakan sangat merugi karena masa-masa yang harusnya aku habiskan
bersama keluarga malah aku habiskan dengan kegiatanku disekolah maupun diluar sekolah,
dan kini umurku 18 baru aku sadari berapa pentingnya berada di rumah. Aku
perempuan yang saat menikah harus keluar rumah oh ibu hanya sedikit waktuku untuk dirumah. Aku
takut jika waktuku sudah tak lama lagi aku tak bisa merasakan kehangatan keluarga,
aku takut jika waktuku habis aku tak sempat mengatakan kumenyayangi kalian.
Aku tak tahu akan sampai kapan jiwaku ini kan terus melekat
dalam tubuhku, tapi aku belum berbakti pada kedua orng tuaku.
Saat kau masih punya
waktu jangan ragu tuk ungkapkan rasa sayangmu pada ibu bapakmu karena mereka
mengorbankan banyak hal untukmu.
Comments
Post a Comment