Way to meet

Terasa begitu lama tak menulis menjadi sedikit kaku, untaian kata yang saling terpaut itulah kalimat, dan kumpulan kalimat jika berggabung kan menjadi sebuah paragraf. Sering kali bahasa tulis tak bisa mewakili perkataan langsung penuh ekspresi karena tulisan memiliki makna yang bisa dibilang dipengaruhi pikiran dan imajinasi si pembaca atau mungkin juga bisa dipengaruhi isi hati si pembaca.
Kali ini aku hanya akan mencoba mengikuti apa yang kau inginkan bukannya malah menentang dan melawan gerakan jari-jari yang siap menenun huruf-huruf menjadi sebuah kisah haru atau penuh binar bahagia.
Kisah ini bercerita bermula saat matahari tak begitu terik namun cukup hangat dan terang tuk memberikan kesempatan melihat benda-benda disekeliling.
Saat itu kau mungkin bisa melihat dia, seorang gadis tengah duduk dibawah pohon bunga bugenvil di tengah jembatan merah. Ya jika kau berkesempatan bangun pagi tuk sekedar menyegarkan diri tak tergoda selimut serta bantal guling, kau akan memilih menghirup udara segar dengan keluar rumah dan sekonyong-konyong memiliki sedikit semangat melangkahkan kaki menuju bantaran sungai kau mungkin bisa bertemu dengannya. Namun jika kau terlalu siang tentu kau tak akan bisa melihatnya karena gadis itu tak terlalu menyukai keramaian juga cahaya terang.
Dulu aku sempat bertanya apakah kiranya gadis itu adalah manusia ataukah hanya makhluk jadi-jadian yang jika terkena sinar matahari kan memudar menjadi debu. Begitulah awalnya aku berfikir tentang gadis itu sebelum aku mengetahui kisahnya. Sebelum sebuah selendang tiba-tiba terlipat rapi di depan pintuku. Selendang merah.
Saat itu bulan Juni saat aku memutuskan pindah temat tinggal dengan segala keruwetan yang ada tapi yah aku tahu aku harus melakukan ini meski aku tak suka. Bukankah apa yang kita sukai belum tentu baik untuk kita?
Arah angin berhembus sedang tak teratur kadang ia ke barat kadang ia juga ketimur atau bahkan pernah suatu waktu angin berembus laksana goresan krayon anak-anak yang tak beraturan arahnya.
Singkat cerita aku mendapatkan sebuah kamar disalah satu kontrakan baru atas usul seorang teman, lebih tepatnya bantuannya membuatku berada disini.
Tak pernah terbayang olehku yang harus memulai lagi dari awal  berkenalan ulang dengan orang-orang disekitarku tapi setidaknya ada satu orang yang ku kenal berada di rumah itu sedang yang lain percayalah aku tak mencoba menebak seperti apa mereka. Aku hanya menyiapkan kelapangan hati menerima semuanya.
Berada dilingkungan baru dengan hanya satu orang yang mengenalmu ternyata tak begitu buruk. Pagi itu seperti biasa aku harus bangun sebelum matahari bertengger dengan nyaman di cakrawala, seorang teman tiba-tiba mengusulkan tuk mencari udara segar sekalian ia ingin memberikan orientasi padaku tentang lingkungan sekitar. Mau tak mau demi menghormatinya aku pun menurut, segera membalut kaus lengan pendekku dengan jaket dan mengikuti langkahnya.
Sejuk, itu yang kupikirkan. Ahhh sudah lama aku tak merasakan rasa bebas dan sedikit ketenangan merasuki setiap tarikan nafasku sepertinya. Saat itulah pertama kali aku melihat gadis itu duduk disana ditengah jembatan merah.
Tak begitu jelas aku melihatnya karena aku memilih meninggalkan kacamataku di kamar karena kufikir pagi ini aku tak mungkin akan membaca tulisan sambil olahraga pagi kan?
Hanya sepintas ku lihat sepintas saja, gadis itu sedang menunduk seola membaca sesuatu, begitu fokus seolh tak peduli sekelilingnya.
“Woy! Bangun mas! Jangan jalan sambil tidur.”
Sejenak aku tesentak terbangun dan ku langkahkan kaki menjauhi jembatan berbalik menuju rumah.
Kembali kerutinitaas selnjutnya, aku harus berangkat ke kampus.
Bukan, aku bukannya sok sibuk tapi memang beginilah rutinitasku serasa berjalan sesuai dengan rencanaku. Yak im a planner. Dan hari ini aku harus berangkat pagi karena sebenarnya ada garapan yang belum ku selesaikan kemarin. Bukan hal serius sebenarnya, aku hanya perlu memperbaiki beberapa hal kecil ya hanya begitu saja.
Tapi ada satu hal yang jelas yakni kehidupanku dulu tidak lah sama dengan kehidupanku kini. Jika dulu aku melakukan banyak hal tuk memberikan warna pada hidupku, saat ini aku melakukan banyak hal tuk menyibukkan diri agar tak mengingat sekelebat bayang-bayangnya.
Malam sudah mulai pekat namun kakiku masih harus terus melangkah, meski tak terlalu jauh memang jarak kosku kini dengan kampus tapi malam ini sepertinya aku terlalu lelah tuk berjalan. Dan kulihat lagi dia gadis yang biasa disungai sedang bermain biola mungkin ia sedang latihan atau sedang mengulang pelajaran musiknya.


Ia menoleh ke arahku dan sekilas ada tatapan yang bisa dibilang seolah ia mengenalku. 

Comments

Populer Post

Sinopsis novel Akatsuki

Proses Osmosis pada Kentang

Bunga dan Kumbang