Bab Ketiga
Sebelumnya aku belum pernah memikirkan tentang keluarga. semuanya berjala begitu saja tanpa dipikirkn, bahkan terkesan acuh karena memang tak menjadi kebiasaan dalam keluarga kami untuk saling bertukar pikiran seperti halnya definisi keluarga dalam bab bab yang aku baca dalam buku. Setiap harinya itu dirumah
hanya marah-marah dan itu juga yang menjadi salah satu penyebab tumbuhnya
kebiasaan berdiam diri didalam kamar bagiku dan adikku. Hubunganku dan adikku
juga sangat tidak baik karena kami selalu dibandingkan alhasil kami tumbuh
dengan rasa tidak menyukai satu sama lain. Aku memiliki kesibukan semenjak SD dimana
aku dirumah hanya tidur dan mayoritas waktu habis di sekolah dan saat liburan
akan banyak waktu dihabisakan untuk kegiatan non akademik.
Kami dikeluarga hampir tidak pernah duduk bercanda, jangan
bayangkan mengucapkan rasa sayang masing-masing thats never. Aku juga memilih
menjauh, sejak kecil bercita-cita sekolah ditempat yang jauh agar tak mendengar
omelan ibu. ‘receh’ banget kan alasan sekolah diluar kota. Ia memang begitu.
Kal disuruh milih antara kegiatan diluar atau dirumah maka aku lebih suka berkegiatan
diuar, karena kalo dirumah ya Cuma masuk kamar diam.
Saat kuliah diluar kota rasanya ‘bebas’. Aku ikut banyak
kegiatan sesuka hati. Eh meskipun bebas aku memiliki batasan yang memang udah
ada dari sononya, dari dulu aku gak suka anak nakal dan merokok jadi sebisa
mungkin menjaga pertemanan. Ya sadar diri juga sih jauh dari orang tua jadi gak
mau keplosok pertemanan yang kurang baik. Bapak juga ngasih syarat bahwa aku
harus masuk rohis kalo sekolah diluar kota. Dan akhirnya akupun nurut untuk itu
aku masuk rohis fakultas.
Tepatnya pada tahun 2015 mulai tertampar mengenai ‘family’.
Bahwa harusnya aku tak terus menuntut, aku mendapat pengetahuan menegenai
parenting dari kampus tapi benar-benar dapat epencerahan mengenai kasih sayang
family ya pada tahun 2015 saat aku masuk asrama. Disitu aku mulai sedikit demi
sedikit mencoba membuka komunikasi sengan ornag tua. Mulai membuka diri. Inget
banget perkataan umi yang bikin jleb jleb jleb yakni tentang ilmu ‘seorang anak
itu tanggung jawab orang tua, apalagi bab memahamkan tentang agamanya, kalau
kita kini sadar nih ilmunya nipis pake banget, baca Al Qur’an juga masih
belepotan tersendat-sendat, ya bantulah
orangtua, jangan sampai nanti ornag tua mendapatkan hukuman karena ketidak
pahaman kita. Ya kita usaha ayyuk usaha belajar untuk membanu orang tua kita
nanti diakhirat, jadi nanti kita bisa memberikan keringanan dihadapan Allah
dengan kita belajar mencari ilmu jadi nanti pertanggungjawaban orang tua atas
diri kita tak tterlalu berat.’.
Hari itu aku mulai berfikir, mungkin emang selama ini aku
gak ngerasa orang tua perhatian, tapi sebenarnya mereka perhatian dengan cara
emereka. Terus waktu di asrama ada tugas mingguan dimana ditanyain udah
menghubungi ornag tua belum. Aku selama ini gak pernah yang namanya telfon
duluan, dan kalo ngobrol pun singkat buanget. Jadi waktu itu aku coba
menghubungi ornag tua eh pas diangkat ibu bilang,’enek opo’. Aku bilang gak
apa-apa Cuma mau tanya kabar. Udah gitu dan rasanya geli banget. Karena emang
kita tak pernah saling tanya kabar masing-masing.
Makin lama akhirnya hubungan komunikasi kami membaik. Karena
ya memang kalo pintu gak ada yang buka ya pintunya bakalan trerus tertutup.
Saling tak menghiraukan maka akan sangat asing bahkan lebih asing dari ornag
asing, maka harus ada yang memulai. Itu juga nasihat yang aku dapat di asrama.
Aku ingin dekat dengan keluargaku, pertama kali aku menyadari bahwa sebelum
kasih sayang ornag lain, orang tua kita tuh udah ngasih kasih sayang duluan dan
kitanya aja yang gak sadar. Dan harusnya sebelum kita memberikan kasih sayang
kita ke ornag lain, harusnya kita kasih dulu ke keluarga kita, yang
keseriangannya kita lebih gengsi nunjukin sayang ke orang tua dari pada ke
orang lain. Aku ingin menjadi anak yang baik yang biasa menjadi jalan kedua
orang tuaku menuju surga.

Semangat :)
ReplyDelete