Langkah Seruni Point Bromo

 "Lay berangkat besok yuk!"

"Gila kamu, ayo da."

Percakapan kami sore itu kemudian menghubungi teman di Pasuruan.

Rencana dadakan yang kami susun, beberapa waktu lalu aku di Situbondo, mbak Paijun di Banyuwangi dna Kris di Pasuruan. Rencananya kami ingin main bareng ke Bromo sekitar awal bulan Desember. Padatnya pekerjaan membuat kami ingin lari sejenak mengistirahatkan pikiran dengan menikmati alam, tapi baru kami sepakat untuk berangkat tangga 5 Desember, Mbak Paijun menghubungiku Kamis sore dan mengajak berangkat Jum'at. Dan ajaibnya aku mengiyakan perjalnan, jadilah kami pesan kereta Jum'at pagi untuk keberangkatan jam dua siang.

Keberangkatan yang terbilang nekat dan spontan, baru kali ini banget buat rencana dan langsung berangkat gitu aja. Nyari info tentang Bromo pun baru dilakuin malam hari pas udah di kosan Kris. 

Sabtu siang kami berangkat menuju penginapan di daerah Sukapura namanya Rizky Homestay, seneng sih rumahnya enak dan nyaman dan yang penting gak begitu dingin. Rencananya kami akan berangkat sekitar jam 2 dini hari, secara umum sih homestay nya bersih dan worth it buat dipake nginep lagi. Kami berangkat berempat dengan dua kamar, perkamar tuh udah lengkap fasilitasnya dan bisa pake dapur juga cuma memang jaraknya agak jauh sekitar 25 km menuju titik bromo. 

Jam 10 malam hujan turun bahkan guntur lumayan kenceng, kami sedikit khawatir untuk perjanan dini hari nanti apalagi kami perempuan semua. Alhamdulillah jam setengah dua malam langit berteman dengan kami, jadi kami bisa menikmati perjalanan menuju Seruni Point bersama Pak Man. Jalanan berkelok mennajak dan turunan curam bersama Jeep putih yang dikendarai Pak Man, sekitar 1 jam kami akhirnya sampai di pos terakhir, dilanjutkan menyusuri jalanan menanjak yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan atau bisa juga naik kuda. Tapi kami memilih untuk melangkah perlahan. 

Setelah jalan menanjak, kami dihadapkan pada 200 anak tangga, udara yang dingin dan juga gelap. Rencana awal aku akan menapak 20 anak tangga baru beristirahat, namun tak seperti rencana maklum jarang olahraga jadi baru 5 langkah sudah ngos ngosan dan akhirnya berhenti sejenak kemudian dilanjutkan. Sampai akhirnya jam 3.48 Sampai di atas, kami pun segera duduk dan bergantian untuk shalat subuh. 

Ternyata kami masih bisa naik lebih keatas dengan cara mendaki sedikit tebing, jadilah aku dan mbak Paijun naik kesana itupun dibantu mas mas yang berbaik hati memberi penerangan. karena sulit bagi kami untuk naik jika harus memegang senter Hp. Sampai di atas ternyata ada yang ngecamp, karena gelap kami memutuskan untuk berhenti mendaki dan memilih duduk, dingin sih tapi tak sedingin di ijen dan kabut pun mulai menyelimuti kami. 

Sampai sinar matahari mulai membagikan cahayanya, subhanallah Allahu Akbar. Sulit untuk menjelaskan indahnya panorama yang Allah ciptakan bahkan kamera tak mampu menerjemahkan apa yang kulihat melalui mata ini. 

Bahagia











Comments

Populer Post

Sinopsis novel Akatsuki

Proses Osmosis pada Kentang

Bunga dan Kumbang